Sabtu, 22 Agustus 2015

Ponggokan di Kasepuhan Ciptagelar

01.59
Banten merupakan wilayah yang luas karena disetiap tempat terdapat destinasi-destinasi yang menarik untuk di explore ataupun dipelajari, seperti Kasepuhan Ciptagelar merupakan kesatuan Adat Banten Kidul. Desa adat ini merupakan desa terbesar daripada desa adat sekitarnya dan di Ciptagelar sangat mendukung sekali perkembangan teknologi, dari radio sampai televisi punya pemancar sendiri untuk menyiarkan aktivitas di Ciptagelar.

Ponggokan adalah proses pengumpulan hasil bumi selama 1 tahun dari setiap warga Kasepuhan yang nantinya di tumbuk menjadi beras dan digunakan untuk acara Serentaun (pesta panen). Ponggokan sendiri diadakan dengan berbabagai kesenian daerah seperti wayang golek, angklung, musik daerah serta pertunjukan lainnya.




[ Aktivitas Pengumpulan Padi di Bale ]



[ Bale Untuk Pengumpulan Padi ]

[ Proses Penumbukan Padi ]





[ Pelajar dari Jeju - Korea ]







[ Pusat Informasi ]


Bila kalian berkunjung ke Kasepuhan Ciptagelar hal paling utama adalah patuhi peraturan-peratuhannya, karena mematuhi peraturan setempat adalah salah satu cara untuk menghormati. 
Misal di Leuit atau yang disebut juga lumbung padi ini kita tidak dibolehkan untuk mengambil gambar dengan alat apapun ke dalamnya. Setiap tempat banyak terdapat Leuit yang berbagai macam ukuran, dan Leuit Jimat merupakan tempat menampung padi dengan kapasitas sekitar 7.500 pocong yang dapat disimpan dalam puluhan tahun untuk cadangan makanan bila terjadi paceklik. 


[ Leuit Jimat ]


[ Pertunjukan Wayang Golek ]




[ Imah Gede ]




[ Kasepuhan Ciptagelar ]









Senin, 17 Agustus 2015

Taman Panorama, Ngarai Sianok, Lobang Jepang dan Great Wall of Koto Gadang dalam 360 Derajat

01.42

Dindin badindin oi dindin badindin
Dindin badindin oi dindin badindin
Dindin badindin oi dindin badindin
Dindin badindin oi dindin badindin.....

Tau kan sepotong lirik lagu ini berasal darimana? yup lagu daerah asal Sumatera Barat yang berjudul Badindin diciptakan oleh Tiar Ramon dan dipopulerkan oleh penciptanya sendiri. Selain itu lagu Badindin juga di pakai sebagai pengiring tari Badindin. Dan pada tahun 1980 lagu Badindin dipopulerkan kembali oleh Elly Kasim.

Bicara tentang Sumatera Barat yuk melipir ke Kota Bukittinggi yang merupakan tempat kelahiran Mohammad Hatta (Wakil Presiden Indonesia yang pertama). Pada kolonial Belanda Kota Bukittinggi disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya dijuluki sebagai Parijs van Sumatra. 
Kota ini berada di rangkaian Bukit Barisan dan di kelilingi oleh dua gunung berapi yaitu Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, tidak heran udara di Bukittinggi terasa sejuk dan tanahnya begitu subur.

Bergeser ke Jalan Panorama Bukittinggi, terdapat satu kawasan destinasi wisata bila kita berdiri di satu titik dan berputar 360 derajat maka kita bisa melihat Taman Panorama, Ngarai Sianok, Lobang Jepang dan Great Wall of Koto Gadang. Sungguh menakjubkan sekali dengan pandangan mata bisa dijangkau semua walaupun jika ditelusuri dengan berjalan kaki sangat jauh sekali.


[ Prasasti Taman Panorama ]


[ Taman Panorama Bukittinggi ]


Dari ujung Taman Panorama terlihat jelas sekali dinding raksasa seperti belahan dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 100 M dan lebar kurang lebih 200 M yang membentang sepanjang 15 KM yang dikenal dengan nama Ngarai Sianok. 



[ Ngarai Sianok dalam Uang Kuno Pecahan Rp. 1000 ]

Dahulunya di antara Ngarai (bentang alam yang menyerupai lembah dan memiliki sisi/tebing hampir tegak lurus dengan permukaan tanah) dialiri oleh Batang Sianok (batang yang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau).



[ Ngarai Sianok ]






Dari Ngarai Sianok kembali kedepan lagi dan menuju ke Lobang Jepang, terowongan dengan panjang 1400 M dengan lebar sekitar 2 M dan berlika-liku menuju berbagai ruangan (dalam masanya) seperti ruang sidang, ruang penjara, ruang amunisi, dll.


[ Pintu Utama Lobang Jepang Bukittinggi ]


Untuk masuk ke terowongan sekarang tidak perlu membawa senter atau penerangan tambahan, karena di setiap beberapa meter sudah terpasang lampu-lampu yang menempel di dinding ataupun langit-langit terwongongan dan jalannya pun juga sudah tertata rapi.


[ Salah Satu Terowongan Yang Masih Asli, Belum di Renovasi ]


Selesai menyusuri terowongan lanjut ke Great Wall of Koto Gadang, bisa dikatakan mirip dengan Great Wall of China / Tembok Besar China. Jika kita mengikuti anak-anak tangga dan landaiannya panjangnya sekitar 1,5 KM. 



[ Perjalanan Menuju Ujung dari Great Wall ]


[ Yang di Resmikan tanggal 26 - 1 - 2013 ]


[ Anak-anak Tangga Great Wall ]





Great Wall of Koto Gadang ini diresmikan oleh Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika tanggal 26 Januari 2013. Bangunan masih terlihat kokoh berdiri dan membentang dangan pemandangan tebing-tebing tinggi yang asri karena ditumbuhi pohon-pohon nan hijau, jadi walaupun teriknya matahari menyengat tubuh tidak akan berasa karena angin yang sepoi-sepoi akan menghilangkan lelah kita karena matahari. 


Follow me

Jangan hanya angan di angan saja