Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 November 2017

Pendakian Gunung Arjuno via Tambaksari Lintas Lawang

14.00
Awalnya gak ada rencana mau naik gunung di akhir tahun yang setiap hari hampir hujan, takut menghambat perjalanan dan membutuhkan tenaga lebih untuk pendakian. Karena di ajak dan kebetulan pas long weekend ditambah lagi bisa cuti ya hayuk cusss... hehhehe.

Rabu 29 November 2017 start dari stasiun Pasar Senen jam 14.00 WIB bersama Dwi (wife), Kemay dan bang Kris, Kami dari Jakarta berempat di tambah satu orang bang Hestu dari Jogja yang janjian di Stasiun Pasar Turi. Dalam perjalanan ke Surabaya saya terus mantau cuaca di sekitar Gunung Arjuno, dari curah hujan sampai kecepatan angin apakah masih aman untuk melakukan aktivitas disana.

Stasiun Pasar Senen



Sesampai di Pasar Turi Kami sudah di tunggu mobil sewaan untuk anter-jemput ke basecamp. Untuk menuju basecamp Tambaksari (Pasuruan) atau yang dikenal jalur Purwosari membutuhkan waktu perjalan sekitar 2-3 jam. Lumayan lah buat meremin mata sejenak di mobil itung-itung nyimpen tenaga nanti. Selama perjalanan hanya mengandalkan GPS dan orang di jalan, maklum belum ada yang pernah kesini jadi masih meraba-raba jalan.

Jreeng jeeeeng tibalah di basecamp Tambaksari, tengak tengok kanan kiri sepi ga ada rombongan pendaki lainnya atau basecamp, hanya terlihat rumah-rumah warga, warung, pos kecil untuk ijin dan itu pun tulisannya buka jam 07.00 - 15.30 WIB, masih 2,5 jam lagi menunggu bukanya. Sambil menunggu buat sholat Subuh, sarapan dan packing ulang. Ditunggu-tunggu sampai jam 07.30 belum buka juga pos perijinan pendakian, dan kami disarankan warga buat menghubungi nomor-nomor yang tertera di pos, selang beberapa menit datanglah petugasnya lalu di kasih form ijin pendakian (simaksi).

Start jam 08.00 dengan planning buka tenda maksimal di Jawa Dwipa dengan waktu sampai Maghrib. Jalur dari pos perijinan sampai pos pemeriksaan masih nyaman, yaitu jalanan cor namun masih ada sedikit bebatuan dan tanah, setelah itu memasuki pos I sampai dengan pos VII. Untuk jalur Tambaksari merupakan jalur peziarah karena ditiap pos terdapat tempat-tempat sakral. Sedikit saran dari saya, untuk lewat jalur Tambaksari lebih baik memakai lotion anti nyamuk karena pas lagi istirahat atau kurang gerak nyamuk-nyamuk gak segan buat mencicipi darah kita, hehhehe.

Via Tambaksari (Pasuruan)

Pos I Goa Ontoboego


Pos I Goa Ontoboego


Menurut saya disini merupakan pos terluas areanya dan terdapat patung naga besar, mushola, goa dan beberapa tempat lainnya. Dihari tertentu tempat ini ramai di datangi peziarah untuk mencari ketenangan.

Pos II Tampuono


Pos II Tampuono


Merupakan komplek petilasan Eyang Abiyasa dengan suasana yang begitu teduh dengan pohon-pohon yang mengelilingi tempat ini, tidak jauh dari petilasan terdapat sendang Dewi Kunthi yang airnya sering digunakan orang-orang untuk di konsumsi, dan konon katanya air ini juga mujarab.
Jangan kaget bila disini ketemu Siro dan keluarganya, Siro merupakan anjing yang sering di area Tampuono, mereka sering membantu orang yang kehilangan arah sewaktu di hutan.

Pos III Eyang Sakri


Pos III Eyang Sakri


Sepuluh menit dari pos II sampailah di pos III Eyang Sakri, terdapat bangunan dari kayu yang di cat hijau yang didalamnya ada makam dan disebelahnya ada tanah lapang yang luasnya kira-kira muat buat 4-5 tenda.

Pos IV Eyang Semar


Pos IV Eyang Semar

Untuk mencapai pos IV dibutuhkan waktu 2 jam dari pos III, jalurnya mayoritas tanah dan tanjakannya masih tergolong menengah. Di tengah-tengah hutan terdapat rumah yang nampaknya sudah lama tidak dihuni namun masih berdiri kokoh dengan gapura yang bertulis aksara jawa (Rahayu), menurut cerita tempat ini dulu merupan sebuah padepokan dan setelah yang dituakan tidak ada dan tidak lama kemudian orang-orangnya meninggalkan tempat itu, tetapi walaupun sudah kosong masih tetap dirawat.
Setelah melewati Pondok Rahayu ketemu pos IV Eyang Semar, sebuah petilasan dengan patung berbalut kain putih menutupinya. katanya bila bersemedi disini apa yang kita minta bakal terwujud, entah percaya atau tidak tergantung keyakinan masing-masing. Disekitarnya tertapat beberapa bangunan yang katanya untuk menginap peziarah atau pendaki untuk beristirahat. Ada seseorang yang tinggal disebuah gubug dan sudah tinggal disana sekitar 2 tahun sendirian. Waktu itu Kami numpang istirahat sambil menunggu hujan reda, dari sore sampai malam belum reda-reda. Sampai Kami dimasakin buat makan malam dengan menu sup, tempe goreng, ikan asin dan Kamipun juga masak sayur buat nambah-nambah.
Jam 00.15 WIB Kami start dari pos IV langsung di suguhi tanjakan-tanjakan dengan jalur sempit, agak menengok kebelakang viewnya bagus banget, lampu-lampu kota bergemelapan (bukan mistis).

Pos V Makutoromo


[ by google.com ]

[ by google.com ]

Bangunan berbentuk seperti candi ini dulunya tempat bertapanya Dewa Wisnu, disebelahnya terdapat pondok untuk istirahat atau bermalam. Muat untuk sekitar 40-50 orang di dalamnya serta halaman dengan tanah datar juga bisa untuk mendirikan tenda.

Pos VI Candi Sepilar


[ by google.com ]


Dia area ini terdapat 3 buah Candi Sepilar dengan masing-masing tinggi sekitar 1-2 meter dengan beberapa arca di bawahnya, namun kondisi arca disini sudah tak lagi utuh. Menurut cerita disini merupakan tempat muksanya Bila melewati area ini saat malam hari agak begitu berbeda hawanya.

Pos VII Jawa Dwipa


Pos VII Jawa Dwipa

Yaitu tempat lapang yang luasnya muat sekitar 7-8 tenda dengan dikelilingi pohon-pohon besar yang rimbun. Terdapat sebuah monumen kecil yang bertuliskan "Sura Dira Jaya Diningrat Lebur Dining Pangastuti"  yang artinya "Kejahatan pasti kalah oleh kebaikan"

Pelawangan


Pelawangan Gunung Arjuno

Untuk menuju Pelawangan masih panjang perjalanannya, melewati beberapa kali tanjakan yang ga ada habisnya kemudian bertemu jurang dan sehabis itu padang rumput/ilalang barulah sampai di Pelawangan. Karena dari jam 11 di guyur hujan setelah dari Jawa Dwipa dan sempat buat bivak di tengah perjalanan sambil menunggu hujan reda selama 1 jam lebih akhirnya di Pelawangan buka tenda untuk bermalam karena sudah jam 16.00 WIB dan cuaca tidak bersahabat bila dilanjutkan ke puncak. Di dataran atas batu besar Kami buka 2 tenda, tidak sempat buat masak makan malam ataupun sekedar minum munuman hangat, seadanya aja minum air mineral lalu istirahat. Hujan dan badai ga berhenti-berhenti dari siang sampai malam. Untung saja disekitar tenda di lindungi pohon-pohon dari terpaan angin. Dan paginya langit begitu cerah hanya saja masih angin yang lumayan kenceng.

Puncak Ogal-agil


Cantigi

Gunung Arjuno 3.339 MDPL

Puncak Ogal-agil


Dari Pelawangan terlihat jelas tumpukan-tumpukan batu yang berbentuk lancip, dan itu adalah puncak Gunung Arjuno (Puncak Ogal-agil). Dengan jalanan setapak yang belika-liku dan dengan petunjuk-petunjuk yang diikat dipepohonan memudahkan untuk sampai di puncak. Sebelum sampai puncak terdapat susunan susunan batu ini yang dinamakan Pasar Dieng/ Pasar Setan, menurut cerita di pasar ini pernah ada hal aneh yang dirasakan pendaki. Pada malam hari diluar tenda nampak begitu ramai seperti pasar dan dia membeli sebuah jaket, karena uangnya lebih dia dikasih kembalian. Setelah itu paginya diluar tenda sepi tidak ada apa-apa, jaketnya juga entah kemana dan uang kembalian tersebut ternyata dedaunan.



Di area Puncak Ogal-agil ini tidak lah luas dan datar, melainkan terdapat tumpukan batu-batu besar yang berserakan. Harus ekstra hati-hati untuk menuju puncak, licin dan sekelilingnya jurang.

Diwaktu Kami naik sangat jarang sekali berpapasan dengan rombongan lain, hanya waktu di pos IV bertemu dua orang yang turun dan setelah di Jaya Dwipa ada 6-7 orang juga yang turun.

Alas Lali Jiwo

Setalah dari puncak packing dan bersih-bersih area tenda. Jam 11.00 WIB turun via Lawang yang katanya jalurnya lebih cepat daripada via Tretes. Infonya turun cuma 6 jam dan kereta kita jadwalnya jam 21.00 berarti punya sisa waktu beberapa jam buat istirahat di basecamp. Untuk jalurnya dari Pelawangan turun ke arah jalur Tambaksari (Purwosari) namun di persimpangan pertama ambil arah kanan. Melewati Cemoro Sewu atau juga disebut alas Lali Jiwo, berhati-hatilah bila melewati hutan ini, bila kita mempunyai niat jahat bakal muter-muter di hutan ini (disesatkan).

Via Lawang (Malang)

Pos IV Gombes



Pos IV Gombes

Break Sejenak

Dari Pelawangan ke pos IV jaraknya lumayan jauh, sempet istirahat beberapa kali untuk sampai pos IV. Disisi kiri bila kita turun terlihat jurang sama halnya dengan waktu naik dari Tambaksari, kedua jalur ini dipisahkan oleh jurang.

Pos III Mahapena


Pos III Mahapena

Sampai di Pos III sekitar jam 16.00 WIB, sudah pesimis untuk sampai di basecamp jam 19.00 karena jarak antar pos yang sangat jauh. Oh ya pos III ini terdapat bebatuan-bebatuan besar dan tanah datar yang muat untuk 2-3 tenda. Untuk menuju pos II didekat Mahapena ada percabangan, yang kekiri ke aliran sungai (agak jauh) dan kekanan menuju pos II.

Pos II Lincing


Pos II Lincing

Sebelum pos II terdapat percabangan lagi, tidak ada tanda-tanda disini. Jalur kanan menuju pos II lewat Sabana dan jalur kiri menuju pos II via puncak Lincing. Bedanya lewat Sabana itu datar namun agak muter dan lewat puncak lincing itu seperti soundtracknya ninja hatori, hahahahaha.
Tidak tau arah yang mana Kami pun mengikuti jalur yang lebar, setelah ikutin ternyata lewat jalur naik turun puncak yang begitu terjal. Berat kaki untuk menopang bawaan untuk turun, lalu mencoba untuk prosotan aja biar tidak jatuh karena jalur tanah basah. Dalam benak hati saya kalo ada helikopter lewat saya mau bayar buat anter sampai stasiun, atau sampai basecamp juga tak apa. Tak sanggup lagi ini buat berjalan. Terbayang-bayang sop iga bakar dan es duren di bawah yang membuat saya menambah sedikit tenaga.

Puncak Lincing

Dan kami bertiga break sejenak di puncak Lincing, jam menunjukan pukul 17.45 WIB sudah tambah pesimis lagi buat on time sampai basecamp. Ditambah lagi ada yang lagi ngedrop akhirnya buka tenda buat bermalam. Ya sudah ikhlasin aja tiket keretanya yang penting kesehatan dulu. Hanya di area puncak Lincing untuk bisa membuka tenda dengan resiko besar, semoga malam ini tidak ada badai lagi. Sambil melihat-lihat sekitar nampak bulan bersinar terang serta cahaya lampu-lampu juga nampak jelas yang memberikan ketenangan untuk istirahat.

Percabangan Pos Lincing

Pagi harinya logistik hanya tinggal 1 kaleng sarden besar, 1 kg beras dan 1 botol besar air mineral, hanya bisa tersenyum melihatnya. Bila Kami memasak nasi maka air untuk turun sangat minim sekali, dan akhirnya hanya memasak sarden buat sarapan lalu packing dan turun.
Sekitar 1 jam lebih sampai di pos II dan tertulis sumber air berjarak 300 meter dari pos, kemudian bang Kris mengambil 2 botol 600ml untuk diisi air.

Pos I Perkebunan Teh

Dari pos II melewati hutan kecil lalu perkebunan warga baru kebun teh. Saat weekend atau waktu-waktu tertentu di kebun teh ini digunakan para crosser untuk sekedar beraktivitas atau latihan untuk perlombaan. Di jalur ini juga jelas tanda-tandanya untuk naik ke puncak, bila akan turun tinggal ikutin sebaliknya, patokannya kita lihat tower saja nanti bakal sampai basecamp.
Sesampai di pos jaga kebun teh bertemu dengan sekeluarga kecil (bapak, ibu, anak) asal Blitar sedang jalan-jalan di kebun teh lalu kami ngobrol-ngobrol dan ternyata mereka juga hobi naik gunung, tanpa basa-basi Kami dikasih air minum dan kue-kue kemudian diberi tumpangan ke Basecamp, Alhamdulillah.

Sesampai di basecamp Kami ditemani 3 pengurus basecamp dan disuguhi teh manis serta pisang dan salak, sesuatu banget ini, hehehehe. Sambil browsing tiket kereta dan bus untuk pulang ke Jakarta Kami ngobrol tentang Gunung Arjuno dengan pengurus-pengurus basecamp.
Ga lama kemudia dapatlah bus dari Surabaya jam 20.00 dan perkiraan dengan harga sekitar Rp.200.000, tidak masuk diakal sih serta nama POnya juga asing menurut saya. Dan Kami booking dulu via aplikasi dengan tidak membayarnya dulu, dari basecamp ke pasar Lawang naik ojek disambung bus Malang-Surabaya dengan waktu perjalanan 1,5 jam. Sampai di Surabaya mencari loket PO tersebut tidak ada, untung belum transfer.
Bila menunggu pagi di Surabaya untuk bus langsung ke Jakarta maka waktunya menjadi lebih panjang lagi, kemudian saya putuskan buat ngeteng aja dari Surabaya ke Solo dan lanjut Jakarta.


Rute Pendakian via Tambaksari

Peta Pendakian Gn. Arjuno via Tambaksari



Simaksi

Simaksi dan Tiket Gn. Arjuno


Tiket Surabaya - Solo

Eka Eksekutif

Bus Solo - Jakarta

Putera Mulya VIP

Tiket Bus Putera Mulya

Info Biaya :

Kereta Kertajaya Jkt Pasar Senen - Surabaya Pasar Turi Rp. 150.000,-
Simaksi Rp. 14.200,- (perhari)
Sewa mobil Stasiun Pasar Ruri - basecamp PP Rp. 750.000,-
Bus Lawang - Surabaya Rp. 16.000,-
Bus Surabaya - Solo Rp. 88.000,-
Bus Solo - Jakarta Rp. 165.000,-


Estimasi Pendakian Gunung Arjuno via Tambaksari (Purwosari - Pasuruan) :

Pos Ijin - Pos 1 Goa Ontoboego (Pinus dan Perhutani) ±1 Jam
Pos 1 - Pos 2 Tampuono (Pinus dan Kopi) ±1 Jam
Pos 2 - Pos 3 Eyang Sakri (Hutan) ±10 Menit
Pos 3 - Pos 4 Eyang Semar (Hutan) ±3 Jam
Pos 4 - Pos 5 Mahkutoromo (Alang-alang) ±1.5 Jam
Pos 5 - Pos 6 Sepilar (Alang-alang) ±30 Menit
Pos 6 - Pos 7 Jawa Dwipa(Alang-alang) ±1.5 Jam
Pos 7 - Pelawangan (Alas Lali Jiwo) ±4.5 Jam
Pelawangan - Puncak (Batu-batu) ±45 Menit


Jangan lupa tonton video Kami juga ya..


https://youtu.be/pHFWF9OfyLg



Pantangan mendaki di Gunung Arjuno :

1. Jumlah pendaki tidak boleh ganjil
2. Tidak boleh memakai pakaian dominan bewarna merah   



Yang perlu diperhatikan untuk mendaki :

1. Persiapkan itinerary dengan matang
2. Pelajari jalur yang akan dilalui dari orang yang pernah kesana/ internet
3. Perhitungkan logistik selama pendakian
4. Cek peralatan pendakian sebelum packing
5. Bawa uang tunai untuk keperluan yang tak terduga
6. Jaga kondisi tubuh
7. Saat pendakian atur jarak dengan team
8. Bawa turun sampahmu

Minggu, 27 Desember 2015

Trip Maraton Episode 2 : Explore Malang

21.52
Kemudian lanjut ke Stasiun Solo Balapan untuk melanjutkan perjalanan ke Malang dan kebetulan sudah booking tiket kereta sebulan sebelum keberangkatan.

Eiitss, yang belum nyimak dari episode 1 bisa di lihat dulu perjalanan saya  di Trip Maraton Episode 1 : Gunung Merbabu biar ceritanya nyambung, hehehe...

Sampai di stasiun jam 20.00 WIB dan kereta berangkat jam 21.52 WIB, saya menuju mesin cetak tiket mandiri untuk mencetak tiket. Setelah itu saya duduk lesehan di dekat papan penguman keberangkatan kereta biar bisa mantau status kereta. Berjalannya waktu 30 menit sebelum keberangkatan saya melihat update papan status kereta kok ada yang ane, kereta yang saya tumpangi masih banyak bangku yang kosong sedangkan sehari setelah saya booking itu udah full semua bangku, namun saya berfikir positif aja mungkin banyak penumpang yang cancel. 15 menit kemudian rasa penasaran muncul dan saya mengececk di situs KAI, disitu sesuai dengan papan status kereta yang ada di stasiun. Lalu saya cermati ulang tiket yang tadi habis di cetak, dari nama bener, kereta bener, stasiun bener, tanggal dan jam bener, eeh ehhh ehhh setelah liat kalender harinya beda dan bulannya beda, seharusnya 27 Des 15 dan yang tertera di tiket 27 Jan 16, beda sebulan sendiri, hahhaha...



Meunggu Kereta


Tiket Kereta yang Salah Booking


Buru-buru deh buat refund ke counter minta yang hari itu juga atau enggak kereta lainnya. Namun penuh semua untuk keberangkatan hari itu dan terpaksa minta refund uang saja.

Tanpa ambil pusing bergegas menuju Terminal Tirtonadi yang jarak dari stasiun tidak begitu jauh, menghabiskan waktu saja satu jam lebih di stasiun, hahaha...
Karena masih suasana long weekend dan pas hari Minggu juga penumpang jurusan Surabaya menumpuk, kebetulan bus Solo-Surabaya bisa langsung bayar di atas tanpa booking tiket dahulu. Bus dateng buru-buru rebutan naik dengan gendong tas cerriel pula, tapi ga dapet tempat duduk dan saya pun turun kembali sampai terulang dua bus. Bus ketiga masuk terminal buru-buru deh samperin sampai bus berhenti, dan alhamdulilah bisa dapet tempat duduk. Ga lucu kalau Solo-Surabaya berdiri dengan badan yang masih terasa capek habis turun dari Merbabu.



Menanti Bus ke Surabaya


Berangkat dari Solo sekitar jam 22.30 dengan tarif Rp. 46.000,- sampai Surabaya. Sepanjang jalanan pules tapi ada rasa was-was juga sama barang bawaan, situasi dalam bus penuh dan rawan kriminal juga kalau malam-malam lintas propinsi, teringat dulu bapak pernah naik bus ini juga kantong celananya di silet copet. Keesokan harinya jam 05.00 sampai di Terminal Purabaya atau yang sering disebut Terminal Bungurasih Surabaya. Karena saya janjian sama temen di daerah Malang kemudian saya melanjutkan perjalan ke Malang menggunakan bus juga dengan tarif Rp. 25.000,- (Patas AC) hanya 30 menit perjalan, mungkin masih pagi jadi waktu tempuh jadi cepet. Tiba di Terminal Malang juga masih sepi, mau naik angkot takut nyasar dan akhirnya naik Opang aja a.k.a ojek pangkalan.

Setelah ketemu temen (Nofi) hari pertama rencananya mau city tour saja, oh iya Nofi ini sebelumnya saya belum pernah ketemu dan belum kenal, kita sebulan sebelumnya hanya bersapa aja di salah satu forum pejalan yang sama-sama mencari temen buat explore Malang.

Kita tidak ada yang tau arah dari lokasi mau jalan lewat mana, maklum sama-sama pendatang dari luar kota, hehehe. Hanya menggunakan Google Maps dan papan petunjuk arah saja untuk mencari daerah yang dituju, dan tujuan pertama kita adalah Museum Angkut Malang yang beralamat di Kota Wisata, Jalan Terusan Sultan Agung No. 2, Ngaglik, Kota Batu. Antriannya bener-bener luar biasa panjangnya dan ramai di kunjungi rombongan keluarga. Di Museum Angkut ini di bagi beberapa zona berdasarkan benua dan di bentuk sedemikian rupa dengan keadaan negara aslinya, dari mobil clasic sampai mobil masa kini. Selain itu terdapat juga koleksi-koleksi topeng di area Museum D Topeng yang menyimpan ratusan topeng. Bagi yang ingin merasakan jadi pilot sungguhan bisa mengunjungi area Runway 27 disana kalian bisa mengabadikan gambar dengan seragam pilot tentunya. Puas keliling museum bila ingin mencari oleh-oleh bisa mampir di area Pasar Apung yang menjual cindera mata dari berbagai daerah Indonesia.


Antrian Loket Museum Angkut




















Menjelang sore mampir di alun-alun Malang mengisi perut dan hunting tiket buat pulang ke Jakarta, namun kereta udah penuh, bus juga susah cari agen di wilayah Batu. Udah pasrah aja yang penting malem ini bisa dapet tempat istirahat dulu, saya pun janjian dengan teman yang satu grup komunitas tapi belum pernah ketemu juga sama sekali, hehhe. Saya di ijinkan menginap di rumahnya yang lokasinya di tidak jauh dari stasiun Malang Lama.



Alun-alun Kota Batu



Hari kedua di Malang kami bertiga rencana explore pantai, perkiraan sekitar 2-3 jam perjalan dari kota menggunakan motor. Jalanannya pun kecil dan arah kepantai lagi diperbaiki, tanah berbatuan lepas. Yang pertama mengungungi Pantai Goa China, yang terletak di Tumpak Awu, Sumbermanjing Wetan, Kab. Malang. Pantainya bersih dan tidak terlalu ramai pengunjung, tetapi ombaknya lumayan besar mungkin karena laut lepas dari Samudera Hindia. Sebenarnya nama pantai ini adalah Pantai Rowo Indah, karena ada kejadian meninggalnya seorang China yang sedang bertapa di Goa di kawasan ini. Sehingga nama Rowo Indah tergantikan nama menjadi Goa China. Di dekat pantai ini terdapat juga jembatan Bajulmati yang bentuknya unik serta jembatan ini berada di atas muara laut.



Pantai Goa China














Jembatan Bajulmati


Nofi, April, Jazztin


Lanjut ke pantai Jelangkung yang masih sejalan dengan pantai Goa China, agak horor sih namanya, letaknya di Desa Gajahrejo, Gedangan, Kabupaten Malang. Pada awalnya nama pantai ini adalah Jolangkung, dalam bahasa jawa artinya "ojo liwat" (jangan lewat). Dulunya Pantai Jolangkung/ Jelangkung ini ombaknya terkenal besar, sampai meluber kejalanan sehingga membuat pengendara/ orang lewat bisa terseret ombak, maka dinamakan Jolangkung.

Pantai Jelangkung














Puas di Pantai Jelangkung lanjut lagi menyisir jalan pesisir pantai selatan, disini jalannya luas dan sangat mulus, beda sama yang sebelum Pantai Goa China. Dan kita akhirnya sampai di Pantai Batu Bengkung, cukup ramai pengunjung disini mungkin karena aksesnya bagus dan memang begitu indahnya pemandangan pantai itu sendiri. Pantai Batu Bengkung terletak di Gajahrejo, Gedangan, Malang, Jawa Timur. Di pantai ini bila sedang surut kalian bisa main air di celah-celah bebatuan yang membentuk seperti bulan sabit besar.



Pantai Batu Bengkung








Tidak jauh dari Pantai Batu Bengkung kita melipir ke sebuah jalan setapak kurang lebih 5 menit menuju pantai sebelahnya, yaitu Pantai Watu Lepek. Medannya memang agak sulit, karena bebatuan bolong-bolong dan banyak pepohonan yang membuat eksta hati-hati. Di Watu Lepek semburan ombak yang menghantam tebing karang bisa menjulang tingi, dan disini menurut saya spot terbaik menanti Sunset. Oh ya di area ini ada Goa Angin juga, yaitu sebuah goa yang menyemburkan angin yang lumayan kenceng juga dari hembusan atau suaranya yang sebabkan hempasan ombak dari laut masuk celah-celah bebatuan yang menghubungkan goa tersebut, jadi di goa ini bisa mengeluarkan bunyi seperti peluit di karenakan hempasan ombak.




































Hari ketiga rencananya mau ke Gunung Kelud, namun udah kesiangan dan tiket ke Jakarta belum dapet akhirnya ke deket-deket aja. Kemarin malem saya menghubingi & mendatangi pool bus AKAP buat keberangkatan besok, dan jawabannya full semua. Kemudian sama petuganya di suruh datang besok pagi kemungkinan ada tambahan 1 lagi bila banyak penumpang. Paginya saya menghubungi poolnya akhirnya ada penambahan armada lagi, alhamdulillah bisa pulang karena besok harus sudah jalan lagi, sayang tiket PP kalo hangus. Dengan bantuan April minta tolong untuk datang ke pool buat booking sudah membuat hati tenang, hehehe...







Rute explore kali ini adalah ke Ledok Ombo, yaitu tempat Campground yang sangat luas dan banyak fasilitas disana seperti persediaan air bersih, toilet, mushola, dan ada juga sarana outbond untuk keluarga. Ledok Ombo sendiri terletak di Desa Poncokusumo, Malang, Jawa Timur. Saya, April dan di temani beberapa temannya menuju Ledok Ombo lewat sisi Gunung Bromo, yang waktu itu masih berstatus siaga.



Ledok Ombo














Dan sampai disini perjalan saya di Malang dengan temen-temen yang baru kenal, tidak ada salahnya untuk explore sekitar dengan orang-orang baru, karena disitu selain kita bisa menambah teman kita juga menambah wawasan saling bertukar pengalan tentang perjalan masing-masing.
Saya di antar oleh April dan temen-temennya sampai di pool bus untuk melanjutkan perjalanan. Kebanyakan orang katanya lebih nyaman naik kereta bila melakukan perjalanan jauh, tapi saya sendiri lebih asyik naik bus, sensasinya tersendiri, hahhaha..



Waktu masih baru-barunya ini armada

Terima kasih buat Nofi yang hari pertama & kedua explore bareng city tour dan pantai, April yang sudah memberi tumpangan menginap dua malam serta memberi arah untuk ke berbagai tujuan, dan juga temen-temennya April.

Berangkat dari pool Gunung Harta Malang jam 13.00 kemudian mengambil penumpang-penumpang di agen, start full jam 16.00 WIB via Pantura, sangat nyaman dengan armada baru ini menurut saya. Sesampai Jakarta (Pasar Rebo) keesokan harinya jam 04.00 WIB, mampir rumah sebentar buat istirahat dan nuker alat perang.
Badan udah enakan dan malamnya sebelum bus Damri terakhir saya lanjut perjalanan lagi, karena malam tahun baru takut macet di jalan saya memutuskan berangkat lebih awal menuju . . . . . .

To be continued . . .

Kemanakah saya tuju? 
Ada cerita apakah disana?
Nantikan artikel saya di Trip Maraton Episode 3 : . . . . .


Follow me

Jangan hanya angan di angan saja