Minggu, 18 Mei 2014

Kuliner Bandung

05.00
Halo halo Bandung ibu kota Priangan . . . . . .
Nah kali ini mencoba jajanan yang ada di kota Bandung yang katanya mempuyai kenikmatan tersendiri. Berawal dari Stasiun Gambir menggunakan KA Argo Parahyangan alias "Gopar" tujuan akhir Bandung dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan. Bila dibandingkan memakai mobil travel atau bus hanya memakan waktu 2 jam *dengan catatan di tol gak macet.


[ Stasiun Bandung ]

Setibanya di Stasiun Bandung rencana akan ke Jl. Bragra dan sekitarnya, namun kita bertiga bingung mo kearah mana untuk mencapai lokasi. Memang benar pepatah bilang "malu bertanya sesat di jalan", nah dari kata-kata itu kita bertanya-tanya setiap kesasar dan akhirnya setelah berjalan sekitar 3 KM (nyari angkot susah) sampailah di Jl. Braga, menikmati suasana malam yang penuh dengan aktivitas sekitar. Setelah itu lanjut ke Tugu 0 KM Bandung, anehnya orang-orang sekitar belum banyak yang tau tugu itu ada dimana. Berputar-putar menyusuri jalanan dari Braga sampai Masjid Agung gak ketemu juga, dengan tampang pasrah dan waktu juga sudah larut niatnya mau bermalam di Masjid Agung, tapi kata temen gak boleh tidur disitu.

[ Museum Konperensi Asia Afrika ]


[ Jl. Braga ]

Tidak lama kemudian ada dua temen lagi menyusul kita yang sudah pasrah dan memberikan ide untuk menginap di dekat kostnya, perjalanan panjang di mulai lagi sekitar 3 KM sampai di sebuah taman apa itu aku lupa ada angkot lewat di stop oleh salah satu dari kita, negosiasi panjang dilakukan dan akhirnya sukses yang bukan semestinya trayek untuk tempat dituju tapi bisa dituju berkat orang dalam, hahaha.
Sesampai di Dago Atas mampir dulu di tempat makan yang letaknya didepan gang lanjut berjalan di gang kecil jaraknya lumayan bikin lapar lagi. Sebernarnya yang dituju bukan penginapan melainkan kost, 1 kamar ukurannya cukup luas dengan 2 bed dan kamar mandi dalam tanpa AC dan TV, ya gak perlu juga itu karena cuma buat tidur dan suhu di Dago Atas sudah dingin. Awalnya mau menginap disitu gak bisa tapi dengan jurus jitunya orang dalam berhasil lagi untuk sewa 1 kamar cuma Rp. 75,000,- untuk bertiga.


[ Kost Dago Atas ]

Menginjak hari kedua di Bandung mulai menyiapkan perut untuk menampung makanan selama seharian. Sebelum berkelana ada Lima temen lagi yang mau gabung dan meeting point di depan Gedung Sate Bandung.

[ Gedung Sate ]


Setelah semua lengkap destinasi pertama ke Nasi Bancakan yang terletak di Jl. Trunojoyo No. 62 Bandung, dari Gedung Sate cukup jalan kaki gak terlalu jauh lokasinya, itung-itung olah raga pagi sama ngosongin perut.

[ Nasi Bancakan ]


Suasana di dalamnya serasa kembali ke jaman dulu, interior dibuat seperti rumah-rumah Sunda, pramusajinya memakai pakaian Sunda, begitu pula untuk menyajikannya seperti "piring seng" dan "cangkir seng" *kata orang jawa. Menu yang di hidangkan bermacam-macam dari sayur sampai dengan lauk pauknya mau seberapa terserah karena ambil sendiri kecuali nasinya.

Destinasi kedua langsung ke Lembang karena kalau kesiangan takut macet seperti halnya di Puncak Bogor. Perjalanan dari Jl. Trunojoyo menggunakan angkot kearah Ledeng kemudian ganti L300 arah Lembang.
Tujuannya adalah Floating Market Lembang, dengan tiket masuk Rp. 10,000,- itupun tiketnya bisa ditukarkan dengan softdrink.
Di dalam Floating Market terdapat berbagai jajanan dan wahana bermain seperti perahu, flying fox, permainan desa, rumah kelinci. Untuk bertransaksi harus menggunakan koin yang yang disediakan di counter counter penukaran koin.

[ Floating Market lembang ]














Puas di Floating Market Lembang kembali turun menuju Suropati. Sebelum sampai Dago Kami mampir sejenak di Taman Ice Cream, lokasinya dipinggir jalan raya persis namun tidak terlihat seperti tempat makan kalau dilihat dari jalan. Hanya berbentuk rumah tradisional dengan taman yang luas.


[ Taman Ice Cream ]

Untuk Ice Creamnya banyak varian rasa seperti Strawberry, Almond, Durian, Coklat dan lain-lain. Dalam satu cup bisa dinikmati satu rasa ataupun di mix (dua rasa) tergantung selera kita. Bagi yang gak doyan Ice Cream ada menu hangat lainnya juga.

[ Durian + Strawberry ]


Selanjutnya kami menuju "Resep Moyang" yang terletak di Jl. Pahlawan, Suropati. Dari lembang ganti-ganti angkot tiga kali dan di tambah jalan kaki kurang lebih 300 meter, itung-itung ngosongin perut lah biar muat lagi.

[ Resep Moyang ]


Menu utama disini adalah Pizza Remo, kata "Remo" berasal dari Resep Moyang dan cara masaknya berbeda dengan pizza-pizza lainnya yang memasaknya di oven, kalau Pizza Remo cara memasaknya dengan cara di panggang mengunakan tungku yang membuat rasanya semakin gurih dan khas banget. Selain pizza banyak menu makanan berat lainnya ataupun minuman yang bisa mengenyangkan perut.

[ Pizza Remo ]

[ Black Jazz ]


Hari sudah mau malam mengingat sudah booking travel takut ketinggalan maka kami beranjak pulang ke masing-masing tujuan. Di tengah perjalanan Kami mampir di Yoghurt Cisangkuy yang letaknya tidak jauh dari Gedung Sate. Varian rasanya pun juga banyak dan tidak hanya yoghurt saja yang disajikan, ada cemilan-cemilan juga untuk menemani yoghurt.


[ Yoghurt Lecy ]

Minggu, 30 Maret 2014

Ramahnya Nemo di Pahawang

09.00
Pelabuhan Merak salah satu pelabuhan yang gak pernah tidur, dari angkutan umum, kendaraan pribadi, sampai pejalan kaki tidak pernah sepi menyeberangi Selat Sunda.

[ Di atas kapal ferry ]

Tengah malam mulai bergegas naik kapal Ferry menuju Pelabuhan Bakauheni, penyeberangan sekitar 3 jam kalo sambil tidur gak akan terasa lama.

Setelah sampai Pelabuhan Bakauheni dilanjutkan perjalanan darat lintas Sumatera menuju ke Pelahuhan ketapang dengan menggunakan Buswaynya Sumatera dengan jarak tempuh 3 jam.

[ Trans Bandar lampung ]




[ 30 penumpang muat ]

Jangan heran dengan kondisi jalan sumatera, naik turun dan bergelombang tapi pemandangannya bikin gak bosen karena pegunungan yang masih hijau dan jalannya dipesisir pantai.

[ Gerbang Pelabuhan Ketapang ]

Sampailah di pelabuhan ketapang, gak segede di Bakahueni sih karena cuma perahu - perahu kayu saja yang sandar.
[ Dramaga Ketapang ]

Sebelum snorkling jangan lupa isi perut dulu karena di tengah laut gak ada yang jual nasi, hahahaha. Dan disekitaran pulau hanya ada warung - warung makan saja gak ada minimarket, jadi pas masih di Bakauni lengkapi dulu cemilan dan lotion anti nyamuk.
Spot snorkling selama 2 hari ke Pulau Tanjung Putus, Pulau Tegal, Ujung Tanjung Putus, Pulau Gosong dan Pulau Pahawang.


[ Perahu Lokal Untuk Jelajah ]

Dengan perahu lokal yang berkapasitas 15 orang dengan mesin ganda dan bertepal yang melindungi dari sengatan sinar matahari kita akan di antar keliling pulau - pulau sekitar untuk bertemu nemo.


[ Spot Pertama Langsung Ketemu Nemo ]




[ Batu Karang ]













[ Selfi dulu biar kaya di sosmed ]



[ Di tengah laut cuma 30 cm ketinggian air ]



[ Pulau Pahawang ]



[ Keluarga Nemo ]















































[ Sunrise ]





Perlu di inget, pahawang belum ada transport umum dan penginapan serba ada. Dan adanya ojek perahu kalo mo ke pulau, hehehehe..


































Sabtu, 12 Oktober 2013

Melihat Lebih Dekat Anak Krakatau

01.00
Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB dan kerjaan masih belum selesai, mengingat hari Jum'at aku mulai bergegas menyelesaikan pekerjaan karena jalanan pasti macet. Pukul 17.00 lebih selesai sudah pekerjaan langsung mulai berberes, tas khusus sudah siap dibawa dan mulailah perjalan dimulai. Dengan memakai baju kantor yang masih rapi berangkatlah aku dari kantor di kawasan Dharmawangsa Jakarta Selatan menuju Semanggi kemudian ganti bus ke Merak. Sesampai di halte Busway Semanggi menunggu busway yang ke arah Slipi dari pukul 18.00 sampai 20.00 masih berdiri di halte karena saat itu macetnya luar biasa dan antriannya mengular. Dan akhirnya memutuskan keluar halte untuk mencari taxi, itu pun juga rebutan dengan penumpang lain. Setelah dapat taksi langsung menuju Slipi tempat bus tujuan merak lewat, yang bikin malunya argo taxi menunjukan tarif 20.400 kemudian aku bayar dengan uang 50.000, karena drivernya gak ada kembalianny nyarilah ke tasku ada uang 20.000 dan 1 keping uang logam 500an aku kasihlah " ini pak 20.500" kata aku ke driver, malah ngomel-ngomel dia "bang, kalo ngasih tuh seribuan! buat apa gopek di kasih?" kata driver. Tadi di bayar pakai 50.000an gak ada kembali terus di kasih uang pas malah ngomel-ngomel langsung aku tinggal aja.
Setelah itu langsung nyari bus ke merak, lihat yang AC pada penuh dan akhirnya sedapatnya aja naik bus non AC Bhin*k* jurusan Cirebon-Merak. Saat kondektur minta ongkos aku kasih 20.000 karena non AC, eh malah masih kurang lagi katanya tarif 35.000 ke merak, padahal yang AC aja cuma 25.000 kenapa lebih mahal? begitu pula dengan penumpang lainnya juga komplain masalah tarif.
Setelah 3 jam perjalanan sampailah di pelabuhan Merak langsung menuju tempat makan karena perut sudah lapar sambil menunggu rombongan berkumpul. Jam 00.00 baru naik kapal menuju Bakahueni dengan waktu tempuh 3 jam lagi. Karena mata sudah gak kuat melek lagi karena seharian kerjaan penuh langsunglah tidur di buritan kapal dengan beralaskan selembar koran dan beratap langit yang penuh bintang-bintang.
Sesampai di Bakahueni ganti dengan angkot lokal menuju pelabuhan cianti dengan jarak tempuh 2 jam, karena masih gelap mau menikmati pemandangan lintas Sumatera gak bisa ya melanjutkan tidur, kebayang kan rasanya tidur di angkot kaya apa, hahahaha. Sampai di pelabuhan Cianti langsung prepare berjelajah tanpa mandi dan tidak lupa sarapan dulu. Dari pelabuhan Cianti menuju ke Pulau Sebesi untuk bermalam disana membutuhkan waktu 3 jam lagi lewat jalur laut.


[ Pelabuhan Cianti ]


Sebelum ke Pulau Sebesi mampir dulu untuk explore di Pulau Sebuku Kecil dan Sebuku Besar, disitu memang gak bisa buat snorkling tapi pemandangannya luar biasa.
Setelah puas explore pulau langsung melanjutkan untuk mencari spot buat snorkling, tempat demi tempat di cari namun Dewi Fortuna mungkin juga lagi ngetrip di tempat lain akhirnya memutuskan untuk langsung ke Pulau Sebesi untuk menaruh tas dan sekaligus makan siang. 

[ Pulau Sebuku ]


Kenyang makan siang lanjut mencari spot snorkling yang ada di sekitar sebesi, lagi-lagi belum beruntung karena cuaca lagi gak bersahabat. Kemudian perahu mulai mengarah ke Pulau Umang, dan lama kemudian jangkar di turunkan. Mau langsung lompat tapi ragu-ragu karena kapal goyangnya lumayan, aku pelan-pelan turun melewati tangga dan saat snorkling berpegangan dengan tali kapal, takut ombaknya belum tengan. Beberapa menit kemudian air mulai tenang dan mulai berani ke tengah-tengah, maklum belum bisa renang tapi sok berani nyebur asalkan pakai pelampung, hahaha.

[ Pulau Umang ]


[ Relaxasi di Pulau Umang ]


Hari mulai gelap waktunya berburu Sunset ala Pulau Umang, namun matahari masih malu untuk menunjukan aksinya dengan kata lain belum beruntung.
Untuk menginapnya kita nimbrung di rumah warga di Pulau Sebesi, jangan berharap mencari penginapan yang mempunyai fasilitas lebih karena listrik hanya aktif mulai pukul 18.00 sampai dengan 00.00 walaupun ada penginapan khusus dengan genset jumlahnya terbatas. 

[ Gapura Pulau Sebesi ]


[ Dermaga Pulau Sebesi ]


Sebenarnya Sebesi kaya dengan sumber alamnya, dari hasil aku berceloteh dengan salah satu masyarakat lokal katanya banyak hasil bumi disani seperti mangga, kelapa dan coklat dan lain-lain. Disini ditanamin apa saja bisa tumbuh subur. Pikiranku apabila masyarakat bisa mengolah pasti nilai jualnya akan tinggi dan bisa membuat maju daerah Sebesi.
Malam mulai larut dan aku pamit untuk istirahat dengan fasilitas seadanya, untung aja aku bukan anak mall yang sering ngeluh kalo kepanasan *ups. Pukul 4.00 pagi langsung jalan mengarungi Samudera Hindia menuju Anak Krakatau. Dari dermaga ombak belum terasa, tapi setelah beberapa menit kemudian baru terasa banget seperti naik kora-kora. Gak lama kemudian pada muntah-muntah, jendela perahu kanan kiri pada penuh buat "hok". Aku langsung pindah keatas dak atas perahu sambil pakai pelampung biar gak ikut muntah. Karena cuaca lagi mendung dan sedikit gerimis yang membuat gelombang tinggi sehingga membuat kapal kepontang-panting dan aku diatas dak kapal cuma berpegangan tiang buat lampu layaknya seperti film-film luar negeri. 
Tiga jam berlalu sampailah di Anak Krakatau, pasir-pasir pantainya yang hitam pekat yang membuat pemandangan yang berbeda, kata orang lebih sexy. 

 [ Anak Krakatau masih aktif ]


 [ Pantai Anak Krakatau ]


[ Eksis dulu cuy ]


 [ Backgroundnya Gunung Krakatau besar ]



[ Membelakangi Anak krakatau ] 


Karena Gunung Anak Krakatau masih tergolong aktif jadi harus berhati-hati di sekitar gunung. Beberapa menit explore Anak Krakatau sampai naik ke atas dan tiba-tiba turun hujan, karena barang-barang berharga gak tahan air tanpa pikir panjang langsung lari dari atas menuju pos di bawah dekat perahu bersandar.
Hujan reda di lanjutkan perjalanan ke Lagoon Cabe tempat biota laut tumbuh berkembang, terumbu karang yang beraneka ragam, ikan-ikan yang asyik untuk di ajak bermain. 




Kali ini Dewi Fortuna ikut explore ke Lagoon Cabe jadi keberuntungan ikut kita. Setelah puas snorkling kemudian kembali ke Pulau Sebesi buat bersih-bersih dan kembali ke Jakarta.

Follow me

Jangan hanya angan di angan saja