Sabtu, 21 Januari 2017

Puncak Jayagiri Pas Buat Piknik Akhir Pekan

07.00
Jayagiri merupakan taman hutan yang berada di kaki Gunung Tangkuban Perahu Lembang, Bandung Barat dan berada pada ketinggian 1.450 Mdpl. Mayoritas di tumbuhi oleh pohon pinus yang menjulang tinggi sehingga membuat udara menjadi sejuk.



BPI Pendaki ft. BPI Chapter Tangerang



Awalnya Kami berencana camping di Jayagiri dengan beberapa teman yang berdomisili berbeda-beda daerah. Sebelumnya juga mencari informasi-informasi mengenai transportasi dan peraturan-peraturan disana.

Hari Jum'at jam 20.00 Kami janjian berangkat dari Pasar Rebo bersepuluh naik bus jurusan Bandung. Tanya-tanya ke timer Primajasa katanya bus terakhir ke Bandung jam 21.00, tinggal menunggu pasangan yang baru jadian sebut saja abi & ummi katanya masih dalam perjalan dari Cibubur. Bus primajasa terakhir pun sudah berangkat namun pasangan ini pun tak kunjung tiba.
Dua puluh menit kemudian meraka baru muncul dan bergegas ikut bus yang ada tujuan Bandung. Dengan tarif Rp. 65.000 sampai bandung sekitar jam 4.00, baru kali ini merasakan Jakarta-Bandung 6 jam yang dikarenakan ada perbaikan di Jembatan Cisomang sehingga kendaraan besar dialihkan via non-tol.

Sesampai di terminal Bandung sudah dinanti oleh "mobil putih lembang" yang kami sewa, sembari istirahat ngleyehke boyok sekalian sholat Subuh di mushola sebrang terminal. Selesai istirahat, sholat dan belanja logistik langsung cusss menuju Jayagiri, beruntung masih pagi jalanan Lembang belum terlalu macet. Perjalanan kurang lebih 1,5 jam sampai di basecamp Jayagiri, sebenernya ngeteng dari terminal Bandung bisa, karena estimasi perjalanan dari Jakarta sampai Bandung kurang lebih jam 12-1 dini hari maka memutuskan buat sewa kendaraan saja.

Di basecamp terdapat beberapa warung yang bisa buat sarapan atau ngemil-ngemil saja, dari gorengan sampai makanan yang instant-instant tersedia disini. Perut sudah tenang buat hiking dan mulai perjalanan santai lewat taman hutan ini. Simaksi untuk camping Rp. 15.000, tapi kalau hiking saja cuma Rp. 7.500. Ingat jangan sampai hilang tiketnya, simpen terus karena di akan diperiksa langsung ketenda di sore hari oleh petugas dan dicocokan dengan buku yang kita isi dibawah.
Baru jalan beberapa puluh meter udah nemuin warung lagi, wah percuma nih bawa logistik banyak-banyak, hehehe...



Sarapan di Basecamp



Jangan Lupa Simaksi 



Bawaannya Ngeri-ngeri



Satu jam kurang berjalan kami istirahat sejenak dan mengabadikan gambar sekitar, maklum lah santai namanya juga piknik yang penting bahagia. Banyak pohon-pohon pinus dan karet yang tertata rapi menjulang tinggi, kalo mau buat prewed atau foto-foto ala film India bisa. Sampai gak sengaja rambut kena getah jadi lengket kaya ketempelan permen karet. Akhirnya dikeramasin di lubang sampah dengan air mineral, sadis bukan??.



Penghilang Lelah


Yang Kena Getah



Beberapa menit kemudian lanjut perjalanan alon-alon waton kelakon menuju puncak dengan canda tawa anak muda, medannya bisa dikatakan sedengan lah gak terlalu terjal dan gak terlalu datar. Berjalan dapet tiga puluh menit berjalan ketemu banyak persimpangan besar selayaknya di bunderan HI dan warung-warung juga siap menjajakan jajanannya. Kalo udah melihat gitu mana tahan kita buat mampir sekedar silahturahmi dan berbagi rejeki (bahasanya sok banget gue) hahaha.
Lontong, gorengan, semangka lhap-lhep-lhap-lhep berasa nikmat banget ngalahin makanan mewah kalo disini. Karena adanya cuma itu doang, kalau mau pesen sop iga sapi atau sate kambing nanti di kota saja.
Bertanya ke abah warung katanya puncaknya paling tinggal 500 meter saja 10 menit sampai, langsung wajah berseri-seri mendengar deket lagi sampai, ga kaya waktu mendaki sering di pehapein puncak udah deket, satu tanjakan lagi sampe, lima menit lagi sampe.



Efek Bahagia



Semangka Rasa Jayagiri



Oh iya selain buat hiking disini juga buat lintasan motor trail, namun dibedakan untuk jalannya, tidak jadi satu. Jalan udah mengikuti petunjuk dan ketemu jalan suatu jalan yang kaya dipalang bambu dan akhirnya Kami ambil arah kiri, ngikutin jalan nanjak aja karena menembus hutan pinus. Dan sampai perempatan ala hutan bingung mau kearah mana, kali ini saya bener-bener dipehapein *lagi yang katanya 10 menit sampai tapi ini udah 30 menit lebih ga nyampe-nyampe.
Udah tinggal tidur bentar dulu, siapa tau nemu jalan. Selang beberapa menit ada beberapa orang lewat yang katanya dari Tangkuban Perahu Kami tanya arah puncak juga tidak tahu. Yasudah nanti aja dilanjut, dimari buat istirahat dulu.



Apapun Juga Sampai Puncak Harus Bersama



Leyeh - leyeh



Tidak Ada Salahnya kan Buat Tidur? hehehe



Salah satu dari kita mencoba jalan menyusuri salah satu arah dan akhirnya menemukan jodoh, eh salah maksudnya puncak. Cuma 300 meter dari tempat istirahat langsung meluncur mencari lapak. Buka 3 tenda kapasitas 2P dan 2 tenda kapasitas 4P. Yang satu tenda nyiapain yang nyusul nanti.

Tenda selesai didirikan, logistik siap di masak dan hammock selesai di gantung barulah tidur sore sambil nikmatin udara segernya, lumayan lah sejam buat buat tidur. Eh ya, dari tadi kok sering istirahat dan tidur ya?? maklum lah setiap orang berbeda-beda nikmatin di suatu tempat.



Pikniklah Sebelum Piknik itu di Larang



Yang Baru Sampai



Suasana Malam



Malam pun menjelang dan temen-temen yang nyusul udah pada sampai dan petugas sensus keliling buat ngecek simaksi. Logistik mulai disulap menjadi beberapa hidangan untuk santap malam. Tidak lupa kecap manis dan abon setia menemani kemanapun.
Buat penghibur malam sambil main Uno, kalau kita main Uno pake peraturan kita sendiri, sadis lah pokoknya saling menjatuhkan lawan. Lagi asyik-asyiknya main ujan juga ikut hadir, dan kita tak tergoyahkan buat bubar.
Dan gak perlu kwatir disini, kalau laper bisa turun kebawah sekitar 100 meter ada warung juga dan tembus di warung yang percabangan kaya bunderan HI tadi. Maaf abah, saya telah berburuk sangka sama abah, ternyata bener tinggal 500 meter aja sampai dan Kami yang salah ambil jalur.
Hujan ga reda-reda disertai kilatan lembut akhirnya memutuskan buat istirahat saja, dan main Unonya sekian.

Pagi tiba buka pintu tenda "mak byak" langsung menghadap sunrise berselimut kabut tipis-tipis di atas hutas pinus, enak banget deh pokoknya. Gak rugi nyasar dikit sampe tempat ini. Sesi pemotretan dengan dengan berbagai model cuma tertuju pada satu obyek, yaitu sunrisenya Jayagiri.
Berjalannya waktu dan matahari terus bergeser kemudian memasak logistik yang tersedia buat sarapan bersama, lanjut packing pulang ke daerah masing-masing. Dan salah satu diantara Kami menuju lokasi gowes dengan sepedanya.



Sunrise



Mak Byak



Gowes dari Terminal Bandung



Sayonara


Semua beres waktunya jalan menuju ke basecamp lewat jalan yang benar, bukan lewat jalan waktu berangkat, hahahhaha. Dan perlu diingat jangan sampai meninggalkan apapun kecuali kenangan ya gaes...


Jangan lupa tonton juga video perjalan Kami di bawah ini, serrruuuu abisss...





Matur sembah nuwun.















Rabu, 04 Januari 2017

Pendakian Gunung Andong ; Sekali Jalan Dua Puncak Terlampaui

12.00









     Gunung Andong terletak di antara Desa Ngablak dan Tlogorejo, Grabag Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Untuk mencapai puncaknya terdapat beberapa jalur pendakian dengan variasi medan dan durasi.

     Kemarin saya, kakak dan temanya kakak mencoba mendaki via Gogik, tiket perorangannya di kenakan Rp. 6.000,- dan harus mengisi buku tamu juga tentunya. Di basecamp bisa untuk menitipkan kendaraan bermotor kecuali bus telolet, karana ga muat buat parkirnya, hahaha. Selain itu para pendaki disediakan teh panas secara cuma-cuma oleh pemilik rumah.

     Setelah dari basecamp menuju ke puncaknya tidak perlu bingung lagi, karena banyak tanda arahnya di setiap jalan dan via Gogik ini terdapat 2 jalur, yaitu jalur lama yang langsung ke puncak dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam, sedangkan jalur satunya adalah jalur baru dengan jarak tempuh sekitar 3 jam karena agak berputar. Di Jalur baru terdapat beberapa spot untuk berfoto bagi kalian yang suka hunting foto gunung. Namun saya mengikuti jalur lama saja yang langsung puncak mengingat waktu juga terbatas, start kurang lebih jam 13.00 dengan bekal air minum dan beberapa makanan ringan  dan medan dari jalan cor hingga tanah merah siap di lalui. Dari persimpangan jalur tadi kami melewati pondok pesantren kemudian jalan ke arah puncak dengan sedikit mengelilingi pesantren tersebut, setelah itu baru memasuki hutan yang penuh bambu-bambu besar yang rasanya seperti di China hanya saja pandanya gak ada, hahaaha...
Beberapa menit berjalan sudah di suguhi pemandangan yang ga kalah bagusnya seperti di puncak-puncak, sambil menikmati pemandangan dan juga sambil istirahat juga (capek gaess).
Kabut pun ikut hadir yang membuat jarak pandang rada terganggu, melihat ke depan sepertinya sudah sampai puncak karana vegetasi sudah tak nampak, bergegaslah jalan dan jeng jeng jeng, ternyata masih ada tanjakan lagi di depan. Kalau dihitung-hitung istirahatnya udah 5x ada dan itupun cuma bawa daypack dengan isi ga lebih dari 2 Kg, gimana ceritanya ya kalo bawa kulkas yang isi se supermarket masuk semua???.

     Setapak demi setapak dilewati dan akhirnya sampai di puncak juga, yang pertama di lewatin dari jalur Gogik adalah Puncak Alap-alap dulu, namun waktu sampai puncak ini rasanya seperti lapangan di komplek rumah, sekitar dengan pengelihatan 360 derajat tertutup kabut semua. Tidak lama berdiri di puncak mulai terdengar suara petir dan kabutnya sedikit berair, masih trauma kejadian waktu di puncak Gunung Slamet perasaan mulai was-was dan semua elektronik dimatikan. Mengunggu sampai beberapa menit kabut tak hilang-hilang akhirnya melanjutkan perjalanan.

     Berjalan melewati jalan setapak turunan dan naik dengan kanan-kiri jurang agak berbahaya juga kalau ada angin namun itu jalan satunya yang terdekat menuju puncak satunya. Beberapa menit kemudian sampailah di puncak satunya, yaitu Puncak Andong dengan ketinggian 1.726 Mdpl, kalau tidak ada kabut nampak jelas begitu gagahnya Gunung Merbabu yang pas di depan mata. 
Di Puncak Andong ini sangat luas, bisa menampung pulahan tenda dan biasanya pada hari libur sampai penuh puncak ini, katanya mau gerak aja susah, dan untungnya saya pas sampai di puncak ini masih sepi, hanya ada 4 tenda, sisa lahanny buat maen sepak bola masih bisa. Bagi yang bawa bekal minim jangan kuatir kalau di Puncak Andong, tersedia 2 warung yang standby bukanya 24 jam kaya minimarket di pinggiran jalan itu, hehe. Berhubung ga bawa tenda dan masih berkabut kami pun numpang istirahat di warung tersebut dan kakak beli segelas kopi hanya Rp. 3.000,- yang harganya sama dengan di pedagang kopi keliling, sempat berfikir dengan harga segitu apa gak rugi ya?.  

     Tidak jauh dari Puncak Andong terlihat bangunan kecil di ujung, itu adalah Makam Joko Pekik, dulunya masih berbentuk bangunan biasa, namun pas puasa kemarin di renovasi menjadi lebih bagus.

     Jam menunjukan sekitar pukul 17.00 dan kami turun via jalur Sawit, berbeda dengan jalur naik. Di jalur ini melewati jembatan setan, yang jalannya lumayan enak karena tersusun batu yang rapi membentuk tangga, setelah itu melewati sumber air yang di kasih kran air juga, alirannya deras seperti di rumah kalau lagi buka kran air. Kemudian melewati hutan-hutan dan jam 17.45 sampai di gapura pendakian Gunung Andong via Sawit.








Tonton Youtubenya juga ya dan jangan lupa Subscribe gaes :)


Kamis, 01 Desember 2016

Ulasan Buku : Flowers for Algernon

00.37





Penulis                   : Daniel Keyes
Penerbit                 : UFUK Press
Penerjemah           : Dewi Kartika Teguh Wati
Tahun Terbit         : 2007
Jumlah Halaman  : 457 halaman



Charlie Gordon adalah pria berusia 33 tahun, berprofesi sebagai penyapu lantai di toko roti  Donner dan terlahir dengan IQ 68. Sepanjang hidupnya Charlie selalu menjadi bahan olok-olokan teman-temannya bahkan oleh ibu nya sendiri, Rose. Awalnya Rose tidak menerima keadaan putra nya dan mulai mencoba berbagai cara untuk dapat menyembuhkan. Namun, karena tidak membuahkan hasil ia pun mulai melakukan kekerasan saat Charlie melakukan kesalahan. Ditambah lagi dengan kehadiran adiknya, Norma. Seolah keterbatasan kecerdasan adalah penyakit menular, Charlie sering mendapatkan perlakuan tidak adil. Norma selalu mendapat perlakuan khusus dan Charlie selalu dihukum.

Di kelas untuk orang dewasa terbelakang, tempat Charlie belajar membaca dan menulis, Ia memiliki guru favorit, yaitu Nona Kinnian. Nona Kinnian pun yang menyarankan agar Charlie sebagai orang terpilih untuk mengikuti eksperimen yang sedang dikerjakan oleh Profesor Nemur dan dokter Strauss, melihat dari ketekunan dan semangat Charlie untuk belajar. Eksperimen ini adalah teknik pembedahan otak untuk meningkatkan kecerdasan. Sehingga manusia yang terlahir dengan kecerdasan dibawah rata-rata dapat diubah menjadi manusia yang jenius.

Eksperimen ini telah sukses di uji cobakan kepada seekor tikus yang bernama Algernon dan mengalami peningkatan kecerdasan yang amat signifikan. Sebelum dilakukan operasi, Charlie harus mengikuti serangkaian tes. Salah satunya adalah berkompetisi dengan Algernon dalam tes melewati labirin. Selain itu, ia juga diwajibkan untuk menulis laporan perkembangan setiap harinya.
Setelah dilakukan operasi kehidupan Charlie Gordon pun berubah. Charlie seperti spons raksasa yang menyerap berbagai ilmu pengetahuan. Buku-buku di perpustakaan Universitas Beekman sudah menjadi temannya sehari-hari. Namun perkembangan kecerdasan ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan emosi. Dalam diri Charlie masih tersimpan emosi anak kecil seperti sebelum ia dioperasi. 
Charlie perlahan berubah menjadi sosok yang emosional. Charlie mulai menolak mengikuti serangkaian tes yang memang harus dilaluinya untuk melihat perkembangan penelitian. Ia pun mulai berani membantah Prof Nemur dan dr Strauss. Bahkan Ia melarikan diri dan membuat kekacauan dengan melepaskan Algernon saat pameran dan presentasi penelitian karena merasa dirinya hanyalah “bahan percobaan” dan sebelumnya tidak dianggap manusia.

Banyak yang tidak menyukai kepribadian Charlie yang baru baik dari rekan-rekan di toko kue donner maupun di lab tempat melakukan riset. Tidak hanya itu, Charlie jenius selalu merasa bahwa ada sosok Charlie dungu yang sedang bersembunyi dan mengawasi gerak geriknya. Charlie jenius dan Charlie dungu bertukar peran pada saat Charlie jenius kehilangan kesadaran baik karena mabuk maupun tertidur.

Ternyata kejadian itu tidak hanya dialami oleh Charlie, Algernon pun mengalami perubahan perilaku yang nyaris serupa. Algernon tidak mau mengikuti tes labirin, mogok makan, mulai membentur-benturkan badannya ke kandang, bahkan mulai menyerang pasangannya dan manusia. Hal itu terus terjadi pada Algernon, hingga akhirnya dia mati.

Seperti kurva yang mencapai klimaks lalu menurun, apakah Charlie akan mengalami kemunduran kecerdasan secara drastis kemudian dan juga akhirnya mati? Atau kah ia mampu mempertahankan kejeniusannya?

Novel dengan judul asli yaitu Flowers of Algernon mengalami perubahan judul di Indonesia menjadi Charlie Si Jenius Dungu. Novel ini dikemas dalam bentuk laporan kemajuan yang ditulis oleh Charlie Gordon sendiri, sehingga kita dapat melihat kemajuan kecerdasan yang dia alami. Dari penggunaan kata yang terbalik balik sampai yang penggunaan diksi yang ilmiah dan jarang digunakan dalam keseharian. Kesan saya terhadap novel ini adalah, Pertama ini merupakan contoh novel fiksi sarat ilmu pengetahuan, teori psikologi khususnya. Menawarkan hipotesis dan diakhiri kesimpulan yang meyakinkan dengan didukung oleh teori-teori yang relevan dengan eksperimen tersebut.

Kedua, alur pada awal cerita bergerak cepat dan namun saat memasuki tengah cerita nampak agak lambat dan kembali menarik menjelang akhir. Ketiga, ada kalimat yang saya agak setuju dari novel ini, kalimat yang diucapkan suster yang merawat Charlie saat baru saja menjalankan operasi. Kalimatnya adalah, “mungkin mereka tidak punya hak membuat orang pandai karena karena jika Tuhan ingin menjadikan seseorang pandai. Dia dapat membuat nya terlahir pandai”.  Karena menurut saya setiap manusia memang memiliki keistimewaan, bila memang memiliki kekurangan dalam hal kecerdasan itu bukan berarti jadi manusia tidak berguna, tapi bisa dialihkan dengan kemampuan lain di luar akademis yang tentu saja peranan keluarga dan masyarakat pun memegang peranan penting untuk mengarahkan dan mengawasi
Terima kasih sudah membaca ulasan saya J



Diulas oleh Dwi Isti Anggraini

Sabtu, 19 November 2016

Pendakian Singkat Gunung Bongkok

10.00
     Gunung Bongkok merupakan salah satu gunung yang terletak di Desa Cikandang Kabupaten Purwakarta dengan ketinggian 975 Mdpl. Akses dari terminal atau stasiun di Purwakarta sangatlah mudah, dengan menyewa angkot lokal akan di antar sampai lokasi.

     Kami rombongan berangkat dari Stasiun Jakarta Kota menggunakan kereta Patas Purwakarta menuju Stasiun Purwakarta tarifnya cuma Rp. 6,000 dengan fasilitas di kereta AC, toilet serta tempat duduk sama seperti kereta ekonomi yang ke Jawa, bener-bener murah bukan? cocok lah bagi kami yang irit budget. Waktu tempuh Jakarta-Purwakarta sekitar 150 menit tapi tergantung situasi juga kalo ada keterlambatan dan pemberangkatan dari Jakarta hanya 3 kali di jam yang sudah di tentukan. Sesampai di Stasiun Purwakarta sudah di tungguin Mang Jajang yang punya angkot, dia menyiapkan 2 mobil untuk kami menuju basecamp Gunung Bongkok dengan rute yang variatif dari jalan aspal, jalan sedikit bebatuan, jalan cor, naik-turun dan berkelok-kelok. Sekitar 2 jam perjalanan menuju basecamp tidak lah membuat bosan karena kita bisa melihat sawah-sawah mirip di Ubud serta beberapa gunung yang menjulang tinggi.

     Sesampai di basecamp mengurus simaksi lanjut berjalan sekitar 10 menit menuju pos 2 di camp ground untuk mendirikan tenda, tempat mau buat diriin tenda se RT cukuplah dengan ada beberapa saung besar dan dekat dengan toilet. Dari pos 2 ini kita sudah bisa melihat Waduk Jatiluhur dan kalau malam terlihat lampu-lampu Kota Purwakarta.

     Rencana jam 5 pagi mau summit ke puncak lihat sunrise katanya, ternyata masih mager buat beranjak dari tenda, haaha.. Mungkin lelah karena malemnya ronda sampai larut malam. Tracking ke puncak memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan medan tanan dan bebatuan juga, kemiringan dari 15 derajat sampai 45 derajat lebih ada yang mengharuskan tenaga extra, tapi tenang disana sudah terpasang tali untuk membantu kita untuk naik dan turun sehingga tidak begitu susah untuk melewatinya. Satu, dua, tiga, empat, lima tanjakan di lewati ketemulah percabangan antara ke puncak batu tumpuk dan ke puncak datar 2. Dan kami memilih ke puncak batu tumpuk atau dengan nama lain Puncak Singeluk, dengan 1 tanjakan anak tangga sudah sampai. Dari puncak tersebut bisa memandang 360 derajat sekeliling Gunung Bongkok, kita bisa melihat Gunung Parang yang gagahnya dan di baliknya ada Gunung Lembu serta Waduk Jatiluhur yang tenang.


 
Puncak Singeluk Gunung Bongkok



Jangan lupa tonton video singkat perjalan dari awal perjalan sampai puncak Gunung Bongkok, seru lho perjalannya...






Minggu, 13 November 2016

Ulasan Buku : Menikah Titik Dua

20.52




Penulis                    : Agustina K. Dewi Iskandar
Penerbit                  : PT. Grasindo
Editor                     : Fanti Gemala
Tahun Terbit          : 2014
Jumlah Halaman   : 183 halaman



     Khansa adalah seorang istri dari pria bernama Loki dan ibu satu anak bernama Raira. Awalnya, Khansa yang memutuskan untuk menikah di usia awal 20-an merasa bahagia dalam menjalani peran sebagai ibu rumah tangga.


“Laki-laki adalah angin. Mereka memang punya legalitas untuk memanjangkan langkah dan pulang kapan saja karena memang diciptakan bukan untuk membawa rumah di atas pundaknya, melainkan menyangganya dengan kerja, karya dan doa.
Sementara perempuan mari kita berbangga dengan metaphor siput perkasa. Rumah menjadi indah dan cerah karena senyum. Senyum menjadi berkilau dan hangat karena ikhlasnya. Karena memang perempuan bukan sang superman pencari nafkah dan pemburu karier. Maka wahai perempuan, jangan pernah lelah dengan kodratmu. Karena pada ikhlas itulah, maka titik menuju surga akan terbuka” (hal. 27-28)


     Memiliki sosok suami yang sempurna, anak yang manis dan kehidupan pernikahan yang amat baik awalnya memang terasa menyenangkan. Menjalani kehidupan peran sebagai ibu rumah tangga dengan kehidupan pernikahan yang biasa-biasa saja, membuat sosok Khansa yang periang dan dinamis merasa stagnan dan kehilangan orientasi dalam hidupnya.


“Setelah begitu banyak kebaikan, aku masih boleh ngerasa nggak puas dan mulai meminta yang lain nggak ya?” (hal. 60)

“Nah, susah nggak sih jadinya kalu ternyata kita menyadari kalau kita menikahi orang yang nggak tepat? Lalu, kita harus menjalani segala perangkatnya sebagai sebuah rutinitas yang sifatnya siklis, terus berputar tanpa titik temu.” (hal. 101)


     Untuk mengukuhkan eksistensi, bahwa masih ada sosok Khansa di dunia ini, Ia pun sering membuat tulisan yang berisi gagasan maupun curahan hatinya di blog yang diberi judul “Sebuah Blog”. Seolah semesta sedang mempermainkan nasib kedua insan, tanpa sengaja Khansa bertemu kembali dengan pangeran masa lalunya yang menikmati dan menghayati tulisan-tulisannya di blog.

     Wibi adalah sosok masa lalu Khansa. Dengan Wibi, Khansa mampu dengan leluasa berbagi hal-hal terdalam bahkan yang tidak mampu diungkapkan kepada suaminya. Wibi adalah pemberi warna baru dalam hidupnya.


“Berapa mahal harga sebuah kesetiaan,
Namun lebih mahal lagi makna sebuah keikhlasan dan keyakinan untuk setia tanpa harus berhitung.” (hal. 115)


     Frekuensi dan durasi Khansa di depan laptop cukup membuat Loki curiga. Sering kali Loki mengamati punggung Khansa yang terbangun di tengah malam dan asik dengan laptop hitam kecilnya. Loki pun bertanya kepada hati kecilnya dengan siapa kah Khansa berkirim pesan selarut ini? Apa yang sedang ditulisnya? Serta apa yang diperbuat sosok tersebut sehingga sekarang Khansa nampak lebih cantik, ceria dan bercahaya? Yang pasti bukan karena dirinya.

     Meskipun Khansa berusaha menyembunyikan interaksinya dengan Wibi dengan sangat rapi, semakin hari Loki semakin menaruh curiga sampai akhirnya dia pun merekam segala percakapan instan yang Khansa lakukan. Boom!! Terjawab lah akhirnya kecurigaan dan pertanyaan yang menggerogoti benak Loki selama ini.

     Dengan berbesar hati, Loki pun meminta Khansa untuk berhenti dan kembali pulang ke dalam genggamannya. Khansa dengan kesadaran penuh akhirnya kembali pulang ke hati suami nya. Wibi pun  memutuskan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain dan menikah.


“…… dan kita harus belajar bahwa merelakan juga merupakan salah satu cara untuk mendapatkan dengan pengertian tertentu….” (hal. 158)


     Loki, sosok pria yang sempurna ternyata hanya selalu berusaha tampil sempurna demi menyembunyikan satu kekurangan yang mencengangkan yang ada dalam dirinya. Loki pun terjebak dalam cinta lain yang tidak mampu ia hentikan. Setelah Khansa dan Loki akhirnya menjalani hidup masing-masing. Undangan Wibi terlanjur meluncur ke genggaman Khansa. Lalu novel berakhir begitu saja..

     Akankah Wibi mampu bersanding dengan wanita yang memang sudah sejak lama diidam-idamkannya? Bersanding atas penantian cinta yang diawali dengan salah sehingga kemudian dia dapat?

     Pendapat saya setelah membaca novel ini adalah; Pertama novel ini telah mengubah persepsi saya tentang sajian-sajian novel pernikahan pada umumnya. Jangan mengharapkan tips menghadapi hiruk pikuk rumah tangga dan solusi terbaik yang ditawarkan ketika menikmati novel ini.


“Pernikahan adalah sebuah batas absolut, tapi ia juga menyimpan kehancuran yang absolut”
 (hal. 24)


     Kedua novel ini membuat pembaca tersesat dalam pikiran tokoh utama yang sedang menghadapi konflik rumah tangga dengan taburan masa lalu. Sehingga pembaca yang khususnya tengah berumah tangga lantas berpikir, sudah ikhlas kah kita menjalani rumah tangga dan menikmati setiap prosesnya dengan lapang dada.

     Ketiga, dalam novel ini Saya kembali berkenalan dengan Johari Window. Teori psikologi komunikasi yang sudah saya akrabi sejak dibangku kuliah dulu diulas sedikit dalam novel ini. Saya cukup senang membacanya.


“Memberikan nama hanya proses membedakan saja agar malaikat tidak tertukar saat mencatat dalam jurnalnya” (hal. 35)


     Keempat, novel ini banyak menggunakan diksi yang terasa berat untuk dipahami. Penulis sesekali menggunakan kata yang jarang digunakan dalam keseharian. Contohnya dalam sajak berikut:


“SAJAK DI TITIK NOL
Masa mengakar pada almanac
Waktu mengikat peristiwa
Kau tiada
Segala jejak tak satu pun terkelupas
Kenangan berharap menjadi batu
Gemanya berulang kali
Setia menantiku kembali” (hal. 33)


Secara keseluruhan novel ini cukup menarik untuk disimak. Meskipun alur dan konfliknya cukup mudah terbaca. Terima kasih telah membaca ulasan saya J


Diulas oleh Dwi Isti Anggraini

Minggu, 06 November 2016

Ulasan Buku : Daddy’s Little Girl

23.01




Penulis                    : Mary Higgins Clark
Penerbit                  : PT. Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa            : Kathleen SW
Tahun Terbit          : 2004
Jumlah Halaman   : 440 halaman

Ellie Cavanaugh mendapati kakaknya, Andre Cavanaugh tidak pulang tadi malam. Pada malam sebelumnya Andrea izin untuk mengerjakan tugas dan belajar matematika di rumah Joan dan akan pulang sendiri tepat pada pukul 9 malam. Namun lewat dari waktu yang dijanjikan Andrea belum pulang juga, bahkan setelah disusul oleh ibu nya ke kediaman Joan ternyata Andrea sudah izin pulang dari pukul 8.
Ayahnya yang merupakan polisi daerah tempat mereka tinggal, Oldham, saat mendengar kabar tersebut langsung mengerahkan rekan-rekannya untuk mencari dimana keberadaan Andrea. Bahkan sampai pada keesokan harinya, pencarian itu pun masih nihil. Andrea belum ditemukan.
Andrea merupakan sosok yang remaja 15 tahun yang menyenangkan. Meskipun sedikit bandel, Andrea banyak disukai oleh orang-orang. Andrea memiliki pacar, yaitu Rob Westerfield yang juga memiliki perilaku serupa. Rob pernah ditilang karena kedapatan mengebut dan ada Andrea disebelahnya. Andrea dan teman-temannya pun sering pergi ke “tempat persembunyian” untuk merokok dan nongkrong. Ellie sering diajak untuk pergi ke tempat persembunyian, meskipun sering dikeluhkan oleh teman-teman Andrea yang lain, Andrea selalu bilang bahwa Ellie anak yang baik dan tidak suka mengadu.
Tau bahwa pencarian Andrea belum menemukan hasil, maka Ellie mencoba mencari di tempat persembunyian. Tempat persembunyian sesungguhnya adalah garasi rumah Nenek Rob yang hanya didatangi pemiliknya untuk menghabiskan waktu di musim panas. Betapa terkejutnya Ellie ketika mendapati apa yang dicarinya. Mayat Andrea ditemukan dengan luka penganiayaan di bagian kepala.
Pencarian pelaku pun dimulai. Rob ditangkap karena, kesaksian Ellie bahwa kakaknya memang berencana untuk menemui Rob di garasi setelah pulang dari rumah Joan. Baju-baju Rob yang dicuci menggunakan pemutih pun masih ada bekas noda darah Andrea. Serta dongkrak yang menjadi senjata pembunuh tersimpan di bagasi mobil Rob terselip beberapa helai rambut Andrea.
Menjalani 22 tahun masa hukuman di penjara tidak membuat Rob mengakui kejahatannya. Di akhir masa tahanannya, Rob mengajukan pembebasan bersyarat dan berupaya untuk membersihkan nama baiknya dengan cara mengajukan sidang ulang dengan membawa saksi kunci yaitu Will Nebels.
Will Nebels, pekerja serabutan yang menawarkan jasa membereskan rumah-rumah di kawasan Oldham, membuat kesaksian bahwa pada malam kejadian dia melihat sosok Paulie Strobel mengendarai mobil Rob dan membunuh Andrea di garasi rumah nenek Rob. Paulie memang sudah sekian tahun memendam hati kepada Andrea, namun cinta nya tidak pernah terbalas.
Ellie yang sudah menjadi reporter investigasi di Alaska saat melihat tayangan tersebut di televisi merasa geram atas pengakuan yang dikemukakan Will Nebels. Ellie yakin bahwa Will Nebels sudah disuap oleh keluarga Westerfield.
Seketika itu Ellie meninggalkan kariernya dan melakukan penyelidikan untuk membuktikan bahwa Rob memang bersalah. Tidak segan-segan Ellie mendatangi penjara sing sing, tempat Rob ditahan, dengan membawa karton yang bertuliskan, siapa yang dapat memberi informasi mengenai Rob Westerfield maka akan mendapatkan imbalan serta tidak lupa dicantumkan no hp nya. Tidak hanya itu, Ellie pun melakukan penyelidikan ke sekolah-sekolah yang pernah Rob masuki untuk melihat track record-nya.
Setiap informasi yang Ellie peroleh dari berbagai informan dan bukti-bukti selalu dia tuliskan di website. Tulisan Ellie di website nampaknya cukup dikhawatirkan keluarga Westerfield yang memang dipandang terhormat di masyarakat.
Kejadian-kejadian mengerikan pun segera saja menghampiri Ellie, dimulai dari apartemennya yang dimasuki orang, adanya tambahan catatan di laptop, apartemennya terbakar pada saat tidur, ada yang menguntit setiap Ellie bepergian bahkan sampai mobilnya dihancurkan dan tangki bensinnya dipenuhi pasir. Mengetahui hal-hal tersebut, ayah, adik tiri dan mantan ataasan Ellie, Pete sungguh mencemaskan keadaan Ellie.
Betulkah Rob Westerfield terbukti bersalah? Siapakah selama ini yang mengincar nyawa Ellie? Mampukah Ellie selamat?

Pendapat saya setelah membaca novel Daddy’s Little Girl ini adalah: Pertama tokoh utamanya bukanlah karakter yang menyenangkan dan dengan mudah dijadikan favorit. Selain keinginan untuk mengungkap pelaku pembunuh Andrea, nyaris semua isi benaknya tidak mengandung simpatik. Belum lagi kekeraskepalaan dan kekurangajarannya yang bikin antipati. Bayangkan sudah ditawari berbagai macam kebaikan, dari ayah, adik tiri, teman Andrea (Joan), mantan atasan (Pete), bahkan Mrs. Hilmers yang apartemennya terbakar habis saat karena Ellie di dalamnya, dia tetap tidak peduli.
Kedua sepertinya Ellie hidup di masa lalu. Di beberapa kesempatan Ellie selalu membayangkan kalau Andrea masih hidup, pasti keluarganya masih kumpul bersama, harmonis dan tidak terjadi kejadian-kejadian buruk yang dialaminya sekarang. Ketiga Paulie Strobel juga bukan sosok yang menyenangkan. Pemuda dewasa digambarkan terlalu lemah. Bayangkan pada saat dituduh oleh keluarga Westerfield sebagai pembunuh Andrea sesungguhnya, Paulie langsung mencoba bunuh diri dengan mengiris urat nadi. Paulie juga selalu didampingi ibunya ketika mengungkapkan kesaksian.
Ketiga novel ini agak membosankan, karena mengangkat kejadian 22 tahun yang lalu bahkan pelaku sudah menjalani masa tahanan. Bahkan saya sudah dapat menebak siapa pelaku nya di tengah-tengah membaca. Membaca novel ini, saya membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding karya Mrs. Clark yang lain. Keempat seperti novel-novel pendahulunya, selalu disisipkan unsur romantik di akhir cerita. Bahwa tokoh utama akhirnya bertemu dengan pujaan hati.
Sekian ulasan dari saya, terima kasih.


Diulas oleh Dwi Isti Anggraini

Follow me

Jangan hanya angan di angan saja